SEJARAH PENDIRIAN ASDAMKINDO

ASDAMKINDO lahir atas adanya kegelisahan sekelompok masyarakat jasa konstruksi yang berhimpun dalam wadah ASPEKINDO sehubungan tenaga kerja konstruksi BUJK Anggota ASPEKINDO tidak mendapatkan kepastian pembinaan dari Asosiasi-Asosiasi Profesi yang ada, yang saat itu lebih cenderung mementingkan produk sertifikasi dan melupakan pemberdayaan Anggotanya agar terjadinya peningkatan kompetensi SDM Konstruksi.

DPN ASPEKINDO diamanatkan oleh BUJK Anggota ASPEKINDO agar dapat memfasilitasi terbentuknya Asosiasi Profesi baru yang dapat mengakomodasi kepentingan pembinaan dan pemberdayaan tenaga konstruksi BUJK Anggota ASPEKINDO di seluruh Indonesia.

Untuk memformulasikan dan mengakselerasi pembentukan Asosiasi Profesi tersebut, DPN ASPEKINDO memfasilitasi penyelenggaraan diskusi publik di hotel Oasis Amir pada bulan April 2012 yang mengundang beberapa tokoh ASPEKINDO dan tokoh Jasa Konstruksi Nasional dengan tujuan brainstorming untuk meminta masukan dan usulan serta pandangan dari para tokoh jasa konstruksi mengenai perkembangan dunia jasa konstruksi nasional dan permasalahan yang dihadapi, khususnya untuk mengakselerasi peningkatan kompetensi SDM Konstruksi dalam kerangka menghadapi MEA tahun 2015.

Dari masukan dan usulan serta pandangan para tokoh jasa konstruksi yang hadir dapat ditarik kesimpulan terdapat tantangan besar dalam penyelenggaraan pembinaan dan pemberdayaan kompetensi SDM Konstruksi, khususnya sudah adanya indikasi penyimpangan penyalahgunaan proses sertifikasi kompetensi SDM Konstruksi yang dapat berdampak pada menurunnya kredibilitas jasa konstruksi nasional dihadapan masyarakat dan semakin kurangnya pembinaan dan pemberdayaan SDM Konstruksi Nasional.

Pengalaman yang tidak semestinya telah dialami sejak tahun 2007 oleh DPN ASPEKINDO dimana pelaksanaan pembinaan dan pemberdayaan SDM Konstruksi BUJK anggota ASPEKINDO yang dilaksanaan secara masif diseluruh wilayah Indonesia terganggu oleh adanya oknum dan individu yang tidak bertanggung jawab dalam proses sertifikasi, sehingga berdampak pada menurunnya kesadaran masyarakat untuk memiliki keinginan kuat dalam meningkatkan kompetensi dan kualitas diri yang dimilikinya.

Hasil diskusi tersebut merekomendasikan kepada DPN ASPEKINDO agar dapat memformulasikan terbentuknya Asosiasi Profesi yang lebih bertanggung jawab melakukan pembinaan dan pemberdayaan Anggotanya. Atas adanya rekomendasi tersebut, maka DPN ASPEKINDO melangsungkan berbagai rapat-rapat untuk merumuskan Asosiasi Profesi seperti apa yang akan dibentuk agar dapat menjalankan visi dan misinya secara optimal.

Terdapat beberapa hal yang menjadi Pokok-Pokok Pikiran Pendirian Asosiasi Profesi dan keterlibatan ASPEKINDO didalamnya :

  1. Asosiasi Profesi yang dibentuk adalah Asosoasi Profesi yang mandiri dan independen dan secara organisasi tidak terafiliasi dengan pihak manapun, termasuk dari ASPEKINDO dan harus tercermin pada Akte Pendiiran dan AD-ART Asosiasi Profesi tersebut nantinya.
  2. Keterlibatan institusi ASPEKINDO adalah dalam kerangka penjaringan masukan, usulan, dan pandangan para tokoh mengenai perkembangan pembinaan SDM Konstruksi di seluruh wilayah Indonesia.
  3. Untuk fase berikutnya, keterlibatan institusi ASPEKINDO adalah melalui tokoh-tokohnya yang berpengalaman dalam membangun dan mengelola organisasi profesi yang selanjutnya mereka dapat menjadi bagian dari unsur Pengurus Asosiasi Profesi tersebut.
  4. Dan yang paling penting keterlibatan ASPEKINDO adalah melalui buah pikirannya dalam upaya untuk mengimplementasikan program-program pembinaan kompetensi SDM Konstruksi Indonesia, yang dapat diselenggarakan bersama oleh ASPEKINDO dan Asosiasi Profesi tersebut.
  5. Secara spirit ASPEKINDO mendukung sepenuhnya pembentukan Asosiasi Profesi ini atas dasar kebutuhan adanya kepastian SDM Konstrukai BUJK Anggota ASPEKINDO dapat terakomodasi seluruh kepentingan-kepentingannya, sehingga eksponen (tokoh-tokoh) ASPEKINDO di seluruh Indonesia dapat berkontribusi dalam pendirian Asosiasi Profesi ini untuk pertama kalinya. Setelah terbentuk, maka tokoh-tokoh ASPEKINDO yang memiliki komitmen untuk membangun Asosiasi Profesi tersebut selanjutnya dapat menjadi unsur Pengurus Asosiasi Profesi tersebut, baik di tingkat Pusat maupun Daerah.

Dari pokok-pokok Pikiran tersebut, maka disepakati Pendirian Asosiasi Profesi tersebut dengan nama Asosiasi Sumber Daya Manusia Konstruksi Indonesia disingkat ASDAMKINDO pada tanggal 2 Juli tahun 2012, didirikan di Jakarta, dengan penandatanganan naskah dan Akte Pendirian ASDAMKINDO dan disepakati diangkat sebagai Pendiri adalah :

  1. Tumpal SP Sianipar, SE, yang saat itu menjabat Ketua Umum DPN ASPEKINDO masa bakti 2009-2013
  2. Feki Andrianto, yang saat itu Wakil Ketua Umum DPN ASPEKINDO masa bakti 2009-2013 dan sekaligus Ketua BSA Pusat ASPEKINDO
  3. Wuryanto, SE, yang saat itu Sekretaris Jenderal DPN ASPEKINDO sekaligus Sekretaris BSA Pusat ASPEKINDO

Selanjutnya untuk mengimplementasikan Pendirian ASDAMKINDO ini, maka diangkat untuk pertama kali Tumpal SP Sianipar, SE selaku Ketua Dewan Pembina Nasional, Feki Andrianto selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) ASDAMKINDO dan Wuryanto, SE selaku Sekretaris Umum DPP ASDAMKINDO. Tugas pertama yang diemban adalah mempersiapkan Kesekretariatan dan Manajemen DPP, penyelenggaraan MUNAS I ASDAMKINDO, pembentukan DPD ASDAMKINDO, dan sosialisasi kepada pemangku kepentingan.

Ada kecirian yang berbeda pada nama ASDAMKINDO dibandingkan dengan nama-nama yang sudah ada, yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) dimana berbeda dengan yang sudah ada yang secara umum berbasis nama Tenaga Kerja, Tenaga Teknik, Tenaga Terampil dan sejenisnya. Perbedaan nama tersebut secara filosofis seiring dengan latar belakang pembentukannya dimana ASDAMKINDO ini dibentuk atas dasar keprihatinan ketidakpastian pembinaan SDM Konstruksi oleh Asosiasi Profesi yang ada.

Tokoh-tokoh ASPEKINDO dan Jasa Konstruksi yang hadir dalam acara diskusi publik menyampaikan sisi lemah dari jasa konstruksi nasional tidak semata pada tenaga ahli dan tenaga terampilnya, juga pada tata kelola manajemen usahanya sehingga dibutuhkan tenaga kerja konstruksi non teknis seperti ahli pengadaan, ahli hukum kontrak, ahli keuangan dan penganggaran, ahli perpajakan, dll.. sehingga atas dasar hal tersebut, maka tenaga terampil dan tenaga ahli dirasa tidak tepat yang cenderung mengkonotasikan tenaga teknis. Atas dasar hal tersebut, maka nama Sumber Daya Manusia menjadi kata-kata yang merangkai nama ASDAMKINDO.Dengan demikian fokus dari ASDAMKINDO adalah pembinaan dan pemberdayaan SDM Konstruksi terkait tenaga kerja bidang manajemen usaha dan terkait tenaga kerja bidang teknik.

Selanjutnya pada tgl 3-4 Desember 2012 dilangsungkan MUNAS I ASDAMKINDO dihotel Oasis Amir yang dihadiri oleh 12 DPD sebagai Peserta dan 5 DPD sebagai Peninjau. Penyelenggaraan MUNAS I ASDAMKINDO ini beriringan dengan penyelenggaraan RAPIMNAS-RAKERNAS ASPEKINDO pada tgl.5 Desember 2012.Penyelenggaraan kegiatan secara beriringan dan bukan bersamaan adalah satu penegasan bahwa secara institusi ASPEKINDO dan ASDAMKINDO adalah sejajar dan masing-masing memiliki kemandirian dalam manajemen organisasiyang terpisah.Kesamaannya adalah pada platform visi misi dan program.

Pada fase berikutnya, berbagai persoalan dihadapi oleh ASDAMKINDO dimana aktivitas relative stagnan tidak ada pergerakan yang berarti, sehubungan ketidakaktifan Ketua Umum DPP ASDAMKINDO dengan alasan yang tidak jelas. Kondisi ini berlangsung +/- 1 tahun, sehingga atas dasar kewenangan yang dimilikinya berdasarkan AD-ART ASDAMKINDO, Dewan Pembina Pusat mengambil alih sementara kepemimpinan DPP ASDAMKINDO dengan mengangkat Ir. H. Saryono sebagai Plt Ketua Umum DPP ASDAMKINDO yang tugasnya secepatnya diselenggarakan MUNAS II ASDAMKINDO untuk memperoleh Kepemimpinan DPP ASDAMKINDO yang memiliki legalitas dan legitimasi pasca pengambilalihan sementara DPP ASDAMKINDO.

DPP ASDAMKINDO dibawah kepemimpinan Ir. H.Saryono bekerja keras untuk mengaktifkan Kesekretariatan dan Manajemen DPP dan membangun kembali spirit ASDAMKINDO yang sempat luntur dalam kurun waktu setahun terakhir. Langkah-langkah yang dilakukan adalah :

  1. Langkah pertama adalah menyelenggarakan Rapat Koordinasi DPP dan 9 DPD ASDAMKINDO di Hotel Sentral Jakarta
  2. Menghadiri MUSDA di 5 DPD ASDAMKINDO
  3. Menyelenggarkaan MUNAS II ASDAMKINDO dalam bentuk MUNASLUB ASDAMKINDO

Adapun hasil MUNAS II ASDAMKINDO adalah terbentuk nya kepengurusan DPP ASDAMKINDO Masa Bakti 2014-2019 dibawah kepemimpinan Ketua Dewan Pembina Nasional ASDAMKINDO Tumpal SP Sianipar, SE, Ketua Umum DPP ASDAMKINDO Ir. H. Saryono, Sekretaris Umum DPP ASDAMKINDO Wuryanto, SE.

Pasca MUNAS II ASDAMKINDO, maka DPP bergerak cepat, pada tahun 2013, DPP sudah mendapatkan kewenangan menyelenggarakan kegiatan sertifikasi. Selanjutnya sambil menyelenggarakan kegiatan Sertifikasi, DPP memperluas jejaring organisasi dan terbentuk kepengurusan DPD ASDAMKINDO di 22 DPD ASDAMKINDO.Pada kurun waktu 2014-2015 sudah terbentuk kepengurusan ASDAMKINDO di 22 DPD ASDAMKINDO dan telah menyelenggarakan MUSDA.

Pada kurun waktu kepemimpinan ASDAMKINDO berikutnya DPP ASDAMKINDO menyelenggarakan RAPIMNAS-RAKERNAS ASDAMKINDO yaitu pada tahun 2015 dan 2017.

Pada tahun 2016, DPP ASDAMKINDO berhasil menjadi Kelompok Unsur LPJK Nasional sehingga memiliki kewenangan menyelenggarakan kegiatan VVA sebagai bagian dari system sertifikasi yang diselenggarakan USTK dan registrasi oleh LPJK.

Pada tahun 2019 dimana masa bakti DPP ASDAMKINDO berakhir, dilangsungkan MUNAS III ASDAMKINDO yang dihadiri oleh 22 DPD ASDAMKINDO. Hasil dari MUNAS III ASDAMKINDO adalah terbentuknya Kepengurusan DPP ASDAMKINDO dibawah kepemimpinan Tumpal SP Sianipar, SE selaku Ketua Dewan Pembina Nasional, Hartony, ST, MM, IPM selaku Ketua Umum DPP ASDAMKINDO, dan Erwanto Tandrigau, SE selaku Sekretaris Umum DPP ASDAMKINDO.